ISSS (Indonesia Space Science Society)

ISSS (Indonesia Space Science Society) untuk pertama kali pada tahun 2014 digagas oleh Venzha Christ, direktur dari institusi bernama HONF Foundation, lembaga nirlaba yang bergerak di bidang seni dan teknologi  sejak tahun 1999, yang pada saat itu dirasa kurangnya sebuah infrastruktur dan platform yang nyata dan bisa hadir dekat dengan masyarakat untuk mengetahui serta mempelajari Space Science dan Space Exploration di Indonesia secara mudah dan sederhana serta wadah untuk bertemu antar disiplin serta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kemudian pada tahun 2015 bersama dengan v.u.f.o.c team : Yudianto Asmoro, Sagitha Happy A, dan Bayu Bawono, mereka memberanikan diri untuk membuat satu platform yang bisa berkontribusi bagi pengembangan serta kolaborasi antara seni dan Space Science.

Pada tahun 2016, disaat Venzha Christ dipilih untuk menjadi commision artist pada ArtJog 2016, mereka sekali lagi memberanikan diri untuk membuat sebuah International Conference, yang mereka beri nama SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence). Sejak digelar kali pertama pada 2016, serta kali kedua pada tahun 2017, yang ketiga 2018, ISSS (Indonesia Space Science Society) sudah mampu untuk mengundang pembicara dan pemateri serta berkolaborasi dengan banyak nama dan lembaga-lembaga penting serta universitas dengan ranah Space Science dan Space Exploration.

Sampai dengan saat ini, Venzha bersama dengan v.u.f.o.c dan ISSS (Indonesia Space Science Society), sudah melakukan riset dan berkolaborasi, kunjungan resmi, serta membuat karya bersama dengan tidak kurang dari 40 institusi serta lembaga penting dunia di ranah Space Science dan Space Exploration. Dari dalam negeri tentu saja dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Observatorium BOSSCHA, serta ITB (Institut Teknologi Bandung).

Dari negara tetangga sebut saja TNO (Thai National Observatory), NARIT (National Astronomical Research Institute of Thailand), IANCU (Institute Of Astronomy, National Central University Taiwan), serta AIDC (The Aerospace Industrial Development Corporation), dan tentu saja LuLin Observatory , dan lain lain.

Project yang sudah dikerjakan berupa Space Art/Aeronautics Art antara lain : Occupy UFO House, Lu-Lin Comet Simulation bersama OCAC, dan lain lain.

Dari Jepang bisa disebutkan contoh : NAOJ (National Astronomical Observatory of Japan), JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency), Tsukuba Space Center, KEK (High Energy Accelerator Research Organization), J-PARC (Japan Proton Accelerator Research Complex), ELSI (Earth Life Science Institute), serta KAVLI IPMU (Institute for the Physics and Mathematics of the Universe), dan lain lain.

Project Space Art/Aeronautics Art yang sudah dilakukan antara lain adalah membuat simulasi sebuah tata surya atau solar system bersama YCAM (Yamaguchi Center for Art and Media), Utsuro-Bune mimi museum bersama KENPOKU-ART, dan SHIRASE EXP project (Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering), dan lain lain.

Dari Korea, juga tidak kalah pentingnya, sebut saja : CEOU (Center for Exploration of the Origin of the Universe), Seoul University, serta KARI (Korea Aerospace Research Institute), dan lain lain. Project yang sudah dikerjakan antara lain : DIY Radio Astronomy dan Evolution of The Unknown.

Dari ESA (Europe Space Agency) di dataran benua Eropa juga mempunyai list yang panjang : CNES (National Centre for Space Studies), Headquarter Paris, OHP (L’Observatoire de Haute-Provence), CPPM (Le Centre de Physique des Particules de Marseille), IAP (The Institut d’astrophysique de Paris), OMP (Observatoire Midi-Pyrénées – Pic du Midi Observatory), Station de Radio Astronomie de Nançay, LAM (The Laboratoire d’Astrophysique de Marseille), VIRAC (Ventspils International Radio Astronomy Centre), serta IRAM (International Research Institute for Radio Astronomy), dan tentu saja LHC – CERN (European Organization for Nuclear Research) dan lain lain.

Project Space Art/Aeronautics Art yang sudah dikerjakan bersama antara lain : Cosmos, PSSP (Performance Studies Space Program), (under)standing:(micro)cosmos+(macro)cosmos bersama IMeRA,  ArtKillArt project, Electrocore project, dan lain lain.

Dan tentu saja dari benua Paman Sam, NASA – AMES research center, SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence) Institute, NASA – A HUMAN ADVENTURE, Society For Astronomical Science,  Roswell, AREA 51Griffith Observatory, CSC (Carl Sagan Center), serta SpaceX, dan lain lain.

Karya Space Art/Aeronautics Art yang sudah terlaksana antara lain, Evolution of the unknown, AREA51 Sound Project, dan Cosmos.

dan rangkaian kunjungan resmi serta riset di negara-negara lainnya.

ArtScience Museum presents Indonesia Space Science Society, by Venzha Christ

Working with artists, scientists, astronomers and engineers in Indonesia, Venzha established Indonesia Space Science Society as a framework for the exploration of space from a different perspective. Whilst lacking the means that large space agencies such as NASA have, the Indonesia Space Science Society provides us with a compelling encounter with space nonetheless.

The art installation at ArtScience Museum results from the science of radio astronomy. The installation presents radio waves from space, sent and collected through self-made radio antennas gathering precise data from astronomical objects in space. The transmitted signals received from the planets and stars are then visually displayed and decoded into audible sounds which constitute the soundscape present in this gallery. Radio waves, together with light waves, have changed the way we view the Universe and dramatically increased our knowledge of it.

https://vufoc.space/wp-content/uploads/2017/10/ArtScience-Museum-presents-Indonesia-Space-Science-Society-by-Venzha-Christ-Low-480×360.mp4

The Indonesia Space Science Society shows us that that space is a continuous source of inspiration that compels practitioners from all fields to understand the universe we are within, using both tools and ideas of science, and those of art.

Venzha Christ (b. 1975, Indonesia) graduated from the Indonesia Institute of Arts Yogyakarta (ISI) in 1996. Focused in new media art, he dedicates himself to conducting research projects in the field of space exploration. He has produced and organized various projects from media performances, festivals and public art installations including at ART|JOG|9 in 2016, with the core theme of art and space science. By titling this installation Indonesia Space Science Society, Venzha Christ in fact launched Indonesia’s very first Space Science Society.